Rabu, 01 Juli 2009

asuhan keperawatan pada sistem cardiovaskuler : hipertensi

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian

· Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg. (Brunner & Suddarth, 2001:896)

· Hipertensi adalah pembacaan dari tekanan sistolik yang kurang dari 210 mmHg atau lebih dari tekanan diastolic 120 mmHg atau lebih. (Donna,1995:928)

· Hipertensi adalah tekanan darah yang tinggi yang dapat dilihat dari tekanan darahsistolik yang lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg. (JNC VI,2001:115)

· Jadi, hipertensi adalah tekanan dah yang tinggi yang dapat dilihat dari tekanan darah sistolik yang lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolic yang lebih dari 90 mmHg.

B. Anatomi Fisiologi Sistem Cardiovaskuler

  1. Jantung

Merupakan organ berongga terletak di mediastinum diantara kedua paru di dalam rongga dada, diatas diafragma. Jantung terdiri dari 3 lapisan :

1. Epikardium

2. Miokardium

3. Endokardium

Jantung dilapisi oleh selaput yang disebut pericardium, yang terdiri dari 2 lapisan :

1. Perikardium Parietalis

2. Perikardium Visceralis

  1. Pembuluh Darah

1. Aorta, merupakan arteri besar yang berasal dari ventrikel kiri, merupakan tronkus utama dimana sistem arteri sistemik dimulai. Aorta menyalurkan darah kaya O2 ke seluruh tubuh.Muncul dari ventrikel kiri aorta melalui toraks dan masuk dan berakhir di abdomen. Ada 3 bagian aorta, yaitu: Aorta acendens, arkus/lengkung aorta, dan aorta decendens.

2. Arteri, merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung membawa darah ke seluruh bagian dan alat tubuh. Arteri berfungsi untuk transportasi darah dengan tekanan yang tinggi ke jaringan-jaringan. Arteri memiliki 3 lapisan yaitu Tunika Intima, Tunika Media dan Tunika Adventisia.

3. Arteriola, adalah cabang-cabang paling ujung dari sistem arteri, berfungsi sebagai katub pengontroluntuk mengatur pengaliran darah ke kapiler

4. Kapiler, berfungsi sebagai tempat pertukaran cairan dan nutrisi antara darah dan ruang interstisial.

5. Venula, adalah setiap pembuluh kecil yang mengumpulkan darah dari pleksus kapiler dan bergabung membentuk vena. Berfungsi mengumpulkan darah dari kapiler secara bertahap.

6. Vena, adalah saluran penampung dan pengangkut darah dari jaringan kembali ke jantung, karena tekanan pada sistem vena sangat rendah.

7. Kelenjar Limfe, Kelenjar ini berbentuk bulat lonjong dengan ukuran kira-kira 10-25 mm. Limfe disebut juga getah bening, merupakan cairan yang susunan isinya hampir sama dengan plasma darah dan cairan jaringan. Cairan limfe yang berasal dari usus banyak mengandung zat lemak. Cairan limfe ini dibentuk atau berasal dari cairan jaringan melalui difusi/filtrasi ke dalam kapiler-kapiler limfe dst,aka masuk ke dalam peredaran darah melalui vena.

  1. Darah

Adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Darah terdiri atas plasma (55% dari volume darah) dan sel (45%)

KOMPONEN TEKANAN DARAH

TD

CO

TEKANAN

PERIFER


= X

HR x SV

SISTEM PENGENDALIAN SARAF SIMPATIK

KONTROL

TUBUH

PENGENDALIAN

LOKAL


KLASIFIKASI HIPERTENSI

KATEGORI

SISTOLIK (mmHg)

DIASTOLIK (mmHg)

OPTIMAL

NORMAL

HIGH NORMAL

HIPERTENSI

DERAJAT I

DERAJAT II

DERAJAT III

DERAJAT IV

<120

<130

130-139

140-159

160-179

180-209

>210

<80

<85

85-89

90-99

100-109

110-119

>120

C. Etiologi

Factor resiko yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:

· Wanita hamil

Karena permintaan suplai O2 dan zat nutrisi yang bukan hanya bagi ibu tapi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin, maka otomatis akan membuat jantung berkontraksi lebih cepat agar kebutuhan suplai darah cepat terpenuhi.

· Orang yang bekerja di lingkungan ramai

Suara ramai atau bising dapat mempengaruhi denyut jantung, denyut jantung lebih cepat maka tekanan darah meningkat.

· Tipe orang mudah stress

Orang yang stress merangsang system saraf simpatis untuk melepaskan norephineprin ke pembuluh darah sehingga pembuluh darah vasokonstriksi.

Menurut penyebabnya hipertensi dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Hipertensi Primer / Essensial

Ialah hipertensi yang tidak memiliki penyebab yang spesifik tetapi meliputi banyak factor. Hipertensi essensial merupakan bagian terbesar (90%) dari penderita hipertensi yang ada di masyarakat.

a). Etiologi hipertensi essential:

ü Factor keturunan

Bila ada salah satu anggota keluarga yang memiliki penyakit hipertensi (mis: ayah atau ibu) maka besar kemungkinan akan menurunkan penyakit tersebut pada generasi berikutnya.

ü Intake natrium berlebihan

Peningkatan natrium dapat mengakibatkan peningkatan air, dengan demikian meningkatkan volume sirkulasi darah dan meningkatkan tekanan darah.

ü Stress

Stress fisik dan emosional menyebabkan peningkatan pada pembuluh darah. Frekuensi stress dapat mengakibatkan hipertropi otot pembuluh darah sehingga bisa mengakibatkan hipertensi.

ü Obesitas

Dengan adanya obesitas maka seluruh tubuh akan tertimbun oleh lemak / kolesterol dan inilah yang akan dapat mempersempit lumen dari pembuluh darah karena timbunan lemak / kolesterol yang bias menyebabkan atherosclerosis.

ü Gangguan emosi

Dimaksudkan dengan marah (psikologis) yang dipengaruhi saraf simpatis. Saraf ini akan meningkatkan katekolamin dan terjadi pelepasan norephineprin yang akan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, bila ini terjadi terus menerus maka seseorang tersebut akan memiliki penyakit hipertensi.

ü Konsumsi alcohol yang berlebihan

Dapat membuat dinding pembuluh darah bagian dalam (tunika intima) menjadi kaku dan tidak elastis sehingga aliran darah menjadi tidak lancar.

ü Usia

Usia mempengaruhi regulasi tekanan darah. Seperti arteri kurang sesuai dengan tekanan dan peningkatan pada pembuluh darah. Ini sering meningkatkan sistol.

ü Merokok

Rokok mengandung nikotin yang akan merangsang terjadinya vasokonstriksi pada pembuluh darah.

b). Pathofisiologi hipertensi essensial:

§ Ketidakseimbangan Natrium

Kerusakan eksresi natrium ginjal merupakan perubahan pertama yang ditemukan pada proses terjadinya hipertensi, dimana retensi natrium diikuti dengan ekspansi volume darah dan kemudian peningkatan output jantung. Pada penderita hipertensi essensial transport natrium, kalium, sel darah merah dan putih menunjukkan ketidaknormalan.

§ Sistem saraf simpatik

Tekanan darah merupakan suatu fungsi dari total resistensi perifer dan output jantung. Pada beberapa keadaan keduanya ada dibawah pengawasan system saraf simaptis. Pada penderita hgipertensi essensial mempunyai tekanan darah lebih tinggi dari kadar katekolamin plasma.kadar katekolamin di pengaruhi oleh umur, intake natrium, bentuk tubuh, stress dan aktivitas.

c). Pathoflow hipertensi essensial

saraf simpatis meningkat


vasokonstriksi rennin + angiotensinogen

perifer


angiotensin I (hati)


ACE (angiotensis converting enzyme)

angiotensin II (paru)


aldosteron meningkat


tekanan darah meningkat

retensi Na + H2O


over volume

2. Hipertensi sekunder

Ialah jenis hipertensi yang dapat diketahui penyebab peningkatan tekanan darahnya.

Penyebabnya antara lain:

v Hipertensi renalis

Penyakit ginjal dapat dihubungkan dengan hipertensi, dua mekanisme utama adalah renin-dependen hipertensi.

Kemungkinan penyakit ginjal perlu dipikirkan pada seluruh penderita hipertensi. Penderita gagal ginjal terminalis sangat sensitive terhadap perubahan keseimbangan garam dan air. Hipertensi pada penderita ini dapat diatur dan diawasi dengan pembatasan pemakaian garam dan air.

v Sebab – sebab endokrin

§ Sekresi kortikosteroid yang berlebihan pada sindroma chusing, dihubungkan dengan hipertensi sistemik.

§ Tumor adrenal yang mengekresi aldosteron atau kekebalan (freokromositoma) dapat mengakibatkan hipertensi.

v Koarktasio aorta (penyempitan pembuluh darah aorta)

Merupakan salah satu penyebab yang paling sering pada hipertensi sistemik. Naiknya tekanan darah akan dideteksi pada pergelangan tangan tetapi tidak pada kaki, karena denyut femoral relative sering lambat dari pada radial.

v Terapi obat-obatan

Obat seperti kortikosteroid, pil kontrasepsi, dan beberapa obat steroid anti inflamasi dapat merangsang hipertensi dengan cara merangsang kerja saraf simpatis sehingga mempengaruhi kerja jantung.

D. Manifestasi Klinis

Kebanyakan pasien yang menderita hipertensi memiliki beberapa keluhan, diantaranya:

Ø Sakit kepala yang dikarenakan tekanan intracranial meningkat

Ø Pusing

Ø Lemas

Ø Sesak napas

Ø Kelelahan

Ø Kesadaran menurun

Ø Gelisah

Ø Mual dan muntah

Ø Epitaksis

Ø Frekuensi jantung meningkat

Ø Perubahan irama jantung

E. Insiden

Penyakit hipertensi essensial biasanya dimulai sebagai proses labil (intermitten) pada individu pada akhir 30-an dan awal 50-an secara bertahap “menetap”. Sekitar 20% populasi dewasa menderita hipertensi dan lebih dari 90% diantara mereka dikarenakan hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat ditemukan penyebabnya, misalnya; hipertensi merupakan resiko mordibilitas dan mortabilitas premature yang mengikat sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan diastolic.

Pada orang kulit hitam (afrika) mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit hipertensi. Hipertensi adalah salah satu yang paling berbahaya dalam resiko penyakit kardiovaskuler. Pada tekanan darah orang hipertensi bisa dihubungkan dengan atherosclerosis, stroke, penyakit vaskuler perifer dan gagal jantung (CHF).

F. Komplikasi

Berdasarkan pada data pengkajian, komplikasi potensial yang mungkin terjadi mencangkup:

· Perubahan retina (eksudat, penyempitan pembuluh darah, edema pupil)

· Gagal jantung kiri karena hipertrofi ventrikel kiri yang dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat

· Nocturia karena fungsi reabsorbsi dan absorbsinya rusak sehingga pemekatan urin rusak.

· Gagal ginjal kronis

· Cedera cerebrovaskular atau stoke.

G. Tes Diagnostik

' EKG: luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi

' Rontgen: kemungkinan ditemukan pembesaran jantung atau aorta yang lebar.

' Ekokardiogram: tampak penebalan dinding ventrikel kiri, mungkin juga sudah terjadi dilatasi dan gangguan fungsi diastolic dan sistolik.

' Urinalisa: darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan diabetes

' Glukosa: hiperglikemia (DM pencetus hiperiensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi)

H. Penatalaksanaan

Tujuan tiap program penggunaan bagi setiap pasien adalah mencegah terjadinya mordibitas dan mortabitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Efektifitas setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa pendekatan nonfarmakologis; termasuk penurunan berat badan, pembatasan alcohol, natrium dan tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria, perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap diatas 85 atau 95 mmHg dan sistoliknya diatas 130 sampai 139 mmHg maka perlu dimulai teerpi obat-obatan.

PROSES KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN VASKULER : HIPERTENSI

A.Pengkajian

a. Riwayat pasien

Perawat harus mengetahui factor-faktor terjadinya hipertensi:

» Usia pasien

» Suku bangsa

» Riwayat hipertensi pada keluarga

» Asupan makanan

» Natrium dan kalium yang sering dikonsumsi

» Mengkonsumsi minuman beralkohol atau tidak

» Kebiasaan berolahraga

Juga mengkaji riwayat masa lalu, apakah pernah atau sedang mengalami gangguan ginjal atau gangguan jantung.

b. Pengkajian fisik

sirkulasi

gejala: riwayat hipertensi, atherosclerosis

tanda: kenaikan TD

nadi: denyutan jelas di karotis, radialis

frekuensi/irama: takikardia, berbagai disritmia

neurosensori

gejala: keluhan pusing

tanda: perubahan keterjagaan, orientasi, proses berfikir

makanan/cairan

gejala: makanan yang disukai tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol

tanda: BB normal atau obesitas

adanya edema.

Nyeri/ketidaknyamanan

gejala: sakit kepala oksipital berat

angina

pernapasan

gejala: takipnea, riwayat merokok

tanda: menggunakan otot Bantu pernapasan

bunyi napas tambahan (mengi)

B. Diagnosa Keperawatan Utama

1. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular cerebral

Tujuan :- Keluhan nyeri pasien berkurang sampai dengan hilang

- Aktivitas vasokonstriksi pasien menjadi minimal

- Pasien mampu beraktivitas kembali

INTERVENSI

RASIONAL

1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut

2. Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, mis:kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi (panduan imajinasi, distraksi) dan aktivitas waktu senggang.

3. Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala,mis:mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.

4. Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan.

1. Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi

2. Tindakan yang menurunkan tekanan vascular dan yang memperlambat/memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.

3. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular cerebral.

4. Peningkatan kenyamanan umum. Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan napas lewat mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan membrane mukosa

Evaluasi :

ü Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol

ü Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan

ü Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan

2. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi penyakit berhubungan dengan keterbatasan kognitif

Tujuan :- Pasien mampu memahami proses penyakit dan regimen pengobatan

- Pasien mampu mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan yang perlu diperhatikan

- Pasien mampu mempertahankan TD dalam parameter normal

INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar.

2. Tetapkan dan nyatakan batas Tekanan Darah normal

3. Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah “terkontrol dengan baik” saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang diinginkan

4. Bantu pasien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko cardiovaskuler yang dapat diubah,mis, obesitas, diet tinggi lemak jenuh dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol (>60cc/hari dengan teratur), pola hidup penuh stress

5. Atasi masalah dengan pasien untuk mengidentifikasi cara dimana perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi faktor-faktor di atas

6. Bahas mengenai pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok

1. Bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan

2. Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan Tekanan Darah dan mengklarifikasi istilah medis yang sering digunakan

3. Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi

4. Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungna dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta ginjal

5. Faktor-faktor resiko dapat meningkatkan proses penyakit atau memperburuk gejala. Dukungan, petunjuk, dan empati dapat meningkatkan keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas ini

6. Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung, TD, dan vasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan, dan meningkatkan beban kerja miokardium

Evaluasi :

ü Pasien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan

ü Pasien mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan

ü Mempertahankan TD dalam parameter normal

3. Intoleran aktivitas b.d. kelemahan umum

Tujuan: pasien tidak mengeluh letih atau lemah

Kembali nyaman saat bergerak

INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji respon pasien terhadap aktivitas, dispnea atau nyeri dada; keletihan atau kelelahan yang berlebihan; pusing atau pingsan

2. Instruksikan pasien untuk hemat energi. Mis: melakukan aktivitas dengan perlahan, menyisir atau sikat gigi dengan posisi duduk.

3. Berikan dorongan untuk beraktivitas secara bertahap dan berikan bantuan sesuai kebutuhan.

1. Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologis terhadap stress aktivitas.

2. Membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

3. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba.

Evaluasi:

Pasien diharapkan berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan

Pasien diharapkan menunjukan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologis.

Diagnosa tambahan:

v Resiko tinggi penurunan curah jantung b.d. vasokonstriksi

v Tidak efektifnya koping individu b.d. perubahan cara hidup

Discharge Planning

Ø Jika mungkin pasien mendapatkan pemantauan tekanan darah di rumah sehingga tekanan darahnya dapat dicek secara periodic

Ø Membatasi asupan sodium

Ø Pengaturan berat badan

Ø Membatasi bahkan menjauhi alcohol

Ø Berhenti merokok


DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth.1997.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

Jakarta : EGC vol.2

Doengoes, Marrlynn,dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan

Jakarta : EGC

Ignativisius,Donna,dkk.1991. Medical Surgical Nursing ed. 2

Philadelphia : W.B. Saunders Company

Luckmann and Sorensen’s. Nursing Care of Clients

Philadelphia : W. B. Saunders Company

Poppy,dkk.1998. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC

Rokhaeni,dkk.2001. Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler ed.1

Jakarta : Bidang Pendidikan & Pelatihan Pusat Kesehatan Jantung & Pembuluh darah Nasional “Harapan Kita”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar